YANG FANA ADALAH WAKTU
Puisi tentang waktu, kehidupan, dan keabadian
Yang fana adalah waktu, yang berjalan tanpa pernah menunggu, membawa pergi hari-hari yang lalu, meninggalkan kenangan di sudut kalbu.
Kita hanyalah pengembara, singgah sebentar di dunia yang sementara, menanam harapan di antara doa, lalu belajar ikhlas pada setiap yang sirna.
Waktu tak pernah bertanya, siapa yang bahagia, siapa yang terluka, ia terus melangkah tanpa suara, mengubah tawa menjadi cerita, mengubah pertemuan menjadi kenangan, dan perpisahan menjadi pelajaran.
Maka, sebelum senja menutup hari, sebelum langkah berhenti mencari, cintailah mereka yang masih di sisi, sebab tak semua pertemuan terulang kembali.
Jangan habiskan hidup untuk membenci, jangan biarkan kesombongan menguasai diri, sebab harta akan kehilangan arti, dan nama besar pun perlahan dilupakan bumi.
Jika waktu adalah sungai yang mengalir, biarlah kebaikan menjadi jejak yang mengukir. Jika usia hanyalah pinjaman, biarlah cinta menjadi peninggalan.
Sebab yang fana bukan hanya waktu, tetapi juga raga yang kelak menjadi debu. Namun ada sesuatu yang mungkin tetap menyala: ketulusan yang hidup dalam ingatan manusia.
Yang fana adalah waktu, tetapi makna dari hidupmu akan tinggal dalam jejak yang kau tinggalkan.
Dan ketika kelak dunia menyebut namamu, bukan tentang berapa lama kau hidup yang mereka kenang, melainkan tentang seberapa tulus kau mencintai, seberapa banyak kebaikan yang kau tanam, dan seberapa berarti kehadiranmu bagi kehidupan orang lain.