Perpustakaan Universitas Mbojo Bima

Menjadi Pusat Integrasi Informasi & Peradaban Lokal

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Ayah


Ayah

 

Ayah...

Engkau adalah lelaki yang jarang bercerita tentang luka, namun setiap hari berjuang demi bahagia keluarga. Tanganmu kasar oleh kerasnya kehidupan, tetapi hatimu lembut dalam setiap pengorbanan.

Aku sering melihatmu pulang dengan wajah kelelahan, menyimpan letih di balik senyuman. Kau tak pernah meminta dunia memahami deritamu, kau hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja selalu.

Ayah, berapa banyak mimpi yang kau kubur diam-diam? Berapa banyak keinginan yang kau relakan tenggelam? Hanya agar aku bisa berdiri dengan bangga, hanya agar masa depanku lebih indah dari masa mudamu.

Kau mengajariku tentang hidup tanpa banyak bicara, tentang tanggung jawab, tentang harga diri, tentang air mata. Kau tak selalu memelukku ketika aku terluka, tetapi kau berdiri paling depan saat dunia membuatku kecewa.

Maafkan aku, Ayah, jika selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menanyakan kabarmu, hingga tak menyadari rambutmu mulai memutih, dan langkahmu perlahan kehilangan kekuatannya.

Dahulu, kupikir engkau begitu kuat, seolah tak ada badai yang mampu membuatmu tersesat. Kini aku mengerti, di balik tubuhmu yang tegar, ada hati yang juga bisa rapuh dan gentar.

Ayah, andai aku mampu membeli waktu, akan kubeli setiap detik untuk bersamamu. Ingin kuulangi masa ketika kau menggenggam tanganku, ketika bahumu menjadi tempat ternyaman untukku.

Namun waktu tak pernah mau menunggu, ia terus berjalan, membawa usia menjauh darimu. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta, agar Tuhan menjagamu dalam setiap langkah dan usia.

Ayah, jika kelak aku menjadi seseorang, jangan tanyakan seberapa tinggi aku terbang. Lihatlah apakah aku masih mengingat tanah tempatku berpijak, dan apakah aku masih menghormati tangan yang dahulu mengangkatku saat terjatuh.

Sebab keberhasilanku bukan hanya tentang diriku, ada peluhmu yang mengalir dalam setiap langkahku. Ada doa-doamu yang tak pernah kudengar, tetapi diam-diam menguatkanku menghadapi dunia yang lebar.

Ayah...

Jika suatu hari tubuhmu tak lagi sekuat dahulu, biarkan aku menjadi tempatmu berteduh. Jika langkahmu mulai perlahan dan melemah, genggam tanganku, biar aku yang menjagamu dengan penuh cinta.

Karena dahulu engkau yang mengajariku berjalan, kini izinkan aku membalas kasih dan pengorbanan. Bukan dengan harta, bukan pula dengan kemegahan, melainkan dengan cinta, bakti, dan ketulusan.

Ayah, engkau mungkin tak pernah meminta dipuji, tak pernah berharap namamu diabadikan dalam puisi. Namun bagiku, engkau adalah pahlawan sejati, lelaki sederhana yang memberikan seluruh hidupnya demi aku berdiri.

Dan jika Tuhan bertanya kepadaku suatu hari nanti, siapa sosok yang ingin kupeluk sekali lagi, aku akan menjawab dengan air mata yang tak mampu kusembunyikan:

“Ayah... aku ingin memeluk lelaki yang paling sering menyembunyikan lelahnya, lelaki yang mungkin tak pandai mengucapkan cinta, tetapi telah membuktikannya sepanjang hidupnya.”

Untuk Ayah, lelaki yang mungkin tak selalu mengatakan sayang, tetapi menghabiskan hidupnya untuk menunjukkan arti cinta. ❤️AYAH, LELAKI YANG MENYEMBUNYIKAN LELAH

Puisi untuk seorang ayah yang mencintai tanpa banyak kata

Ayah...

Engkau adalah lelaki yang jarang bercerita tentang luka, namun setiap hari berjuang demi bahagia keluarga. Tanganmu kasar oleh kerasnya kehidupan, tetapi hatimu lembut dalam setiap pengorbanan.

Aku sering melihatmu pulang dengan wajah kelelahan, menyimpan letih di balik senyuman. Kau tak pernah meminta dunia memahami deritamu, kau hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja selalu.

Ayah, berapa banyak mimpi yang kau kubur diam-diam? Berapa banyak keinginan yang kau relakan tenggelam? Hanya agar aku bisa berdiri dengan bangga, hanya agar masa depanku lebih indah dari masa mudamu.

Kau mengajariku tentang hidup tanpa banyak bicara, tentang tanggung jawab, tentang harga diri, tentang air mata. Kau tak selalu memelukku ketika aku terluka, tetapi kau berdiri paling depan saat dunia membuatku kecewa.

Maafkan aku, Ayah, jika selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menanyakan kabarmu, hingga tak menyadari rambutmu mulai memutih, dan langkahmu perlahan kehilangan kekuatannya.

Dahulu, kupikir engkau begitu kuat, seolah tak ada badai yang mampu membuatmu tersesat. Kini aku mengerti, di balik tubuhmu yang tegar, ada hati yang juga bisa rapuh dan gentar.

Ayah, andai aku mampu membeli waktu, akan kubeli setiap detik untuk bersamamu. Ingin kuulangi masa ketika kau menggenggam tanganku, ketika bahumu menjadi tempat ternyaman untukku.

Namun waktu tak pernah mau menunggu, ia terus berjalan, membawa usia menjauh darimu. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta, agar Tuhan menjagamu dalam setiap langkah dan usia.

Ayah, jika kelak aku menjadi seseorang, jangan tanyakan seberapa tinggi aku terbang. Lihatlah apakah aku masih mengingat tanah tempatku berpijak, dan apakah aku masih menghormati tangan yang dahulu mengangkatku saat terjatuh.

Sebab keberhasilanku bukan hanya tentang diriku, ada peluhmu yang mengalir dalam setiap langkahku. Ada doa-doamu yang tak pernah kudengar, tetapi diam-diam menguatkanku menghadapi dunia yang lebar.

Ayah...

Jika suatu hari tubuhmu tak lagi sekuat dahulu, biarkan aku menjadi tempatmu berteduh. Jika langkahmu mulai perlahan dan melemah, genggam tanganku, biar aku yang menjagamu dengan penuh cinta.

Karena dahulu engkau yang mengajariku berjalan, kini izinkan aku membalas kasih dan pengorbanan. Bukan dengan harta, bukan pula dengan kemegahan, melainkan dengan cinta, bakti, dan ketulusan.

Ayah, engkau mungkin tak pernah meminta dipuji, tak pernah berharap namamu diabadikan dalam puisi. Namun bagiku, engkau adalah pahlawan sejati, lelaki sederhana yang memberikan seluruh hidupnya demi aku berdiri.

Dan jika Tuhan bertanya kepadaku suatu hari nanti, siapa sosok yang ingin kupeluk sekali lagi, aku akan menjawab dengan air mata yang tak mampu kusembunyikan:

“Ayah... aku ingin memeluk lelaki yang paling sering menyembunyikan lelahnya, lelaki yang mungkin tak pandai mengucapkan cinta, tetapi telah membuktikannya sepanjang hidupnya.”

Untuk Ayah, lelaki yang mungkin tak selalu mengatakan sayang, tetapi menghabiskan hidupnya untuk menunjukkan arti cinta. ❤️AYAH, LELAKI YANG MENYEMBUNYIKAN LELAH

Puisi untuk seorang ayah yang mencintai tanpa banyak kata

Ayah...

Engkau adalah lelaki yang jarang bercerita tentang luka, namun setiap hari berjuang demi bahagia keluarga. Tanganmu kasar oleh kerasnya kehidupan, tetapi hatimu lembut dalam setiap pengorbanan.

Aku sering melihatmu pulang dengan wajah kelelahan, menyimpan letih di balik senyuman. Kau tak pernah meminta dunia memahami deritamu, kau hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja selalu.

Ayah, berapa banyak mimpi yang kau kubur diam-diam? Berapa banyak keinginan yang kau relakan tenggelam? Hanya agar aku bisa berdiri dengan bangga, hanya agar masa depanku lebih indah dari masa mudamu.

Kau mengajariku tentang hidup tanpa banyak bicara, tentang tanggung jawab, tentang harga diri, tentang air mata. Kau tak selalu memelukku ketika aku terluka, tetapi kau berdiri paling depan saat dunia membuatku kecewa.

Maafkan aku, Ayah, jika selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menanyakan kabarmu, hingga tak menyadari rambutmu mulai memutih, dan langkahmu perlahan kehilangan kekuatannya.

Dahulu, kupikir engkau begitu kuat, seolah tak ada badai yang mampu membuatmu tersesat. Kini aku mengerti, di balik tubuhmu yang tegar, ada hati yang juga bisa rapuh dan gentar.

Ayah, andai aku mampu membeli waktu, akan kubeli setiap detik untuk bersamamu. Ingin kuulangi masa ketika kau menggenggam tanganku, ketika bahumu menjadi tempat ternyaman untukku.

Namun waktu tak pernah mau menunggu, ia terus berjalan, membawa usia menjauh darimu. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta, agar Tuhan menjagamu dalam setiap langkah dan usia.

Ayah, jika kelak aku menjadi seseorang, jangan tanyakan seberapa tinggi aku terbang. Lihatlah apakah aku masih mengingat tanah tempatku berpijak, dan apakah aku masih menghormati tangan yang dahulu mengangkatku saat terjatuh.

Sebab keberhasilanku bukan hanya tentang diriku, ada peluhmu yang mengalir dalam setiap langkahku. Ada doa-doamu yang tak pernah kudengar, tetapi diam-diam menguatkanku menghadapi dunia yang lebar.

Ayah...

Jika suatu hari tubuhmu tak lagi sekuat dahulu, biarkan aku menjadi tempatmu berteduh. Jika langkahmu mulai perlahan dan melemah, genggam tanganku, biar aku yang menjagamu dengan penuh cinta.

Karena dahulu engkau yang mengajariku berjalan, kini izinkan aku membalas kasih dan pengorbanan. Bukan dengan harta, bukan pula dengan kemegahan, melainkan dengan cinta, bakti, dan ketulusan.

Ayah, engkau mungkin tak pernah meminta dipuji, tak pernah berharap namamu diabadikan dalam puisi. Namun bagiku, engkau adalah pahlawan sejati, lelaki sederhana yang memberikan seluruh hidupnya demi aku berdiri.

Dan jika Tuhan bertanya kepadaku suatu hari nanti, siapa sosok yang ingin kupeluk sekali lagi, aku akan menjawab dengan air mata yang tak mampu kusembunyikan:

“Ayah... aku ingin memeluk lelaki yang paling sering menyembunyikan lelahnya, lelaki yang mungkin tak pandai mengucapkan cinta, tetapi telah membuktikannya sepanjang hidupnya.”

Untuk Ayah, lelaki yang mungkin tak selalu mengatakan sayang, tetapi menghabiskan hidupnya untuk menunjukkan arti cinta. ❤️AYAH, LELAKI YANG MENYEMBUNYIKAN LELAH

Puisi untuk seorang ayah yang mencintai tanpa banyak kata

Ayah...

Engkau adalah lelaki yang jarang bercerita tentang luka, namun setiap hari berjuang demi bahagia keluarga. Tanganmu kasar oleh kerasnya kehidupan, tetapi hatimu lembut dalam setiap pengorbanan.

Aku sering melihatmu pulang dengan wajah kelelahan, menyimpan letih di balik senyuman. Kau tak pernah meminta dunia memahami deritamu, kau hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja selalu.

Ayah, berapa banyak mimpi yang kau kubur diam-diam? Berapa banyak keinginan yang kau relakan tenggelam? Hanya agar aku bisa berdiri dengan bangga, hanya agar masa depanku lebih indah dari masa mudamu.

Kau mengajariku tentang hidup tanpa banyak bicara, tentang tanggung jawab, tentang harga diri, tentang air mata. Kau tak selalu memelukku ketika aku terluka, tetapi kau berdiri paling depan saat dunia membuatku kecewa.

Maafkan aku, Ayah, jika selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menanyakan kabarmu, hingga tak menyadari rambutmu mulai memutih, dan langkahmu perlahan kehilangan kekuatannya.

Dahulu, kupikir engkau begitu kuat, seolah tak ada badai yang mampu membuatmu tersesat. Kini aku mengerti, di balik tubuhmu yang tegar, ada hati yang juga bisa rapuh dan gentar.

Ayah, andai aku mampu membeli waktu, akan kubeli setiap detik untuk bersamamu. Ingin kuulangi masa ketika kau menggenggam tanganku, ketika bahumu menjadi tempat ternyaman untukku.

Namun waktu tak pernah mau menunggu, ia terus berjalan, membawa usia menjauh darimu. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta, agar Tuhan menjagamu dalam setiap langkah dan usia.

Ayah, jika kelak aku menjadi seseorang, jangan tanyakan seberapa tinggi aku terbang. Lihatlah apakah aku masih mengingat tanah tempatku berpijak, dan apakah aku masih menghormati tangan yang dahulu mengangkatku saat terjatuh.

Sebab keberhasilanku bukan hanya tentang diriku, ada peluhmu yang mengalir dalam setiap langkahku. Ada doa-doamu yang tak pernah kudengar, tetapi diam-diam menguatkanku menghadapi dunia yang lebar.

Ayah...

Jika suatu hari tubuhmu tak lagi sekuat dahulu, biarkan aku menjadi tempatmu berteduh. Jika langkahmu mulai perlahan dan melemah, genggam tanganku, biar aku yang menjagamu dengan penuh cinta.

Karena dahulu engkau yang mengajariku berjalan, kini izinkan aku membalas kasih dan pengorbanan. Bukan dengan harta, bukan pula dengan kemegahan, melainkan dengan cinta, bakti, dan ketulusan.

Ayah, engkau mungkin tak pernah meminta dipuji, tak pernah berharap namamu diabadikan dalam puisi. Namun bagiku, engkau adalah pahlawan sejati, lelaki sederhana yang memberikan seluruh hidupnya demi aku berdiri.

Dan jika Tuhan bertanya kepadaku suatu hari nanti, siapa sosok yang ingin kupeluk sekali lagi, aku akan menjawab dengan air mata yang tak mampu kusembunyikan:

“Ayah... aku ingin memeluk lelaki yang paling sering menyembunyikan lelahnya, lelaki yang mungkin tak pandai mengucapkan cinta, tetapi telah membuktikannya sepanjang hidupnya.”

Untuk Ayah, lelaki yang mungkin tak selalu mengatakan sayang, tetapi menghabiskan hidupnya untuk menunjukkan arti cinta. ❤️AYAH, LELAKI YANG MENYEMBUNYIKAN LELAH

Puisi untuk seorang ayah yang mencintai tanpa banyak kata

Ayah...

Engkau adalah lelaki yang jarang bercerita tentang luka, namun setiap hari berjuang demi bahagia keluarga. Tanganmu kasar oleh kerasnya kehidupan, tetapi hatimu lembut dalam setiap pengorbanan.

Aku sering melihatmu pulang dengan wajah kelelahan, menyimpan letih di balik senyuman. Kau tak pernah meminta dunia memahami deritamu, kau hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja selalu.

Ayah, berapa banyak mimpi yang kau kubur diam-diam? Berapa banyak keinginan yang kau relakan tenggelam? Hanya agar aku bisa berdiri dengan bangga, hanya agar masa depanku lebih indah dari masa mudamu.

Kau mengajariku tentang hidup tanpa banyak bicara, tentang tanggung jawab, tentang harga diri, tentang air mata. Kau tak selalu memelukku ketika aku terluka, tetapi kau berdiri paling depan saat dunia membuatku kecewa.

Maafkan aku, Ayah, jika selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menanyakan kabarmu, hingga tak menyadari rambutmu mulai memutih, dan langkahmu perlahan kehilangan kekuatannya.

Dahulu, kupikir engkau begitu kuat, seolah tak ada badai yang mampu membuatmu tersesat. Kini aku mengerti, di balik tubuhmu yang tegar, ada hati yang juga bisa rapuh dan gentar.

Ayah, andai aku mampu membeli waktu, akan kubeli setiap detik untuk bersamamu. Ingin kuulangi masa ketika kau menggenggam tanganku, ketika bahumu menjadi tempat ternyaman untukku.

Namun waktu tak pernah mau menunggu, ia terus berjalan, membawa usia menjauh darimu. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta, agar Tuhan menjagamu dalam setiap langkah dan usia.

Ayah, jika kelak aku menjadi seseorang, jangan tanyakan seberapa tinggi aku terbang. Lihatlah apakah aku masih mengingat tanah tempatku berpijak, dan apakah aku masih menghormati tangan yang dahulu mengangkatku saat terjatuh.

Sebab keberhasilanku bukan hanya tentang diriku, ada peluhmu yang mengalir dalam setiap langkahku. Ada doa-doamu yang tak pernah kudengar, tetapi diam-diam menguatkanku menghadapi dunia yang lebar.

Ayah...

Jika suatu hari tubuhmu tak lagi sekuat dahulu, biarkan aku menjadi tempatmu berteduh. Jika langkahmu mulai perlahan dan melemah, genggam tanganku, biar aku yang menjagamu dengan penuh cinta.

Karena dahulu engkau yang mengajariku berjalan, kini izinkan aku membalas kasih dan pengorbanan. Bukan dengan harta, bukan pula dengan kemegahan, melainkan dengan cinta, bakti, dan ketulusan.

Ayah, engkau mungkin tak pernah meminta dipuji, tak pernah berharap namamu diabadikan dalam puisi. Namun bagiku, engkau adalah pahlawan sejati, lelaki sederhana yang memberikan seluruh hidupnya demi aku berdiri.

Dan jika Tuhan bertanya kepadaku suatu hari nanti, siapa sosok yang ingin kupeluk sekali lagi, aku akan menjawab dengan air mata yang tak mampu kusembunyikan:

“Ayah... aku ingin memeluk lelaki yang paling sering menyembunyikan lelahnya, lelaki yang mungkin tak pandai mengucapkan cinta, tetapi telah membuktikannya sepanjang hidupnya.”

Untuk Ayah, lelaki yang mungkin tak selalu mengatakan sayang, tetapi menghabiskan hidupnya untuk menunjukkan arti cinta. ❤️AYAH, LELAKI YANG MENYEMBUNYIKAN LELAH

Puisi untuk seorang ayah yang mencintai tanpa banyak kata

Ayah...

Engkau adalah lelaki yang jarang bercerita tentang luka, namun setiap hari berjuang demi bahagia keluarga. Tanganmu kasar oleh kerasnya kehidupan, tetapi hatimu lembut dalam setiap pengorbanan.

Aku sering melihatmu pulang dengan wajah kelelahan, menyimpan letih di balik senyuman. Kau tak pernah meminta dunia memahami deritamu, kau hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja selalu.

Ayah, berapa banyak mimpi yang kau kubur diam-diam? Berapa banyak keinginan yang kau relakan tenggelam? Hanya agar aku bisa berdiri dengan bangga, hanya agar masa depanku lebih indah dari masa mudamu.

Kau mengajariku tentang hidup tanpa banyak bicara, tentang tanggung jawab, tentang harga diri, tentang air mata. Kau tak selalu memelukku ketika aku terluka, tetapi kau berdiri paling depan saat dunia membuatku kecewa.

Maafkan aku, Ayah, jika selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menanyakan kabarmu, hingga tak menyadari rambutmu mulai memutih, dan langkahmu perlahan kehilangan kekuatannya.

Dahulu, kupikir engkau begitu kuat, seolah tak ada badai yang mampu membuatmu tersesat. Kini aku mengerti, di balik tubuhmu yang tegar, ada hati yang juga bisa rapuh dan gentar.

Ayah, andai aku mampu membeli waktu, akan kubeli setiap detik untuk bersamamu. Ingin kuulangi masa ketika kau menggenggam tanganku, ketika bahumu menjadi tempat ternyaman untukku.

Namun waktu tak pernah mau menunggu, ia terus berjalan, membawa usia menjauh darimu. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta, agar Tuhan menjagamu dalam setiap langkah dan usia.

Ayah, jika kelak aku menjadi seseorang, jangan tanyakan seberapa tinggi aku terbang. Lihatlah apakah aku masih mengingat tanah tempatku berpijak, dan apakah aku masih menghormati tangan yang dahulu mengangkatku saat terjatuh.

Sebab keberhasilanku bukan hanya tentang diriku, ada peluhmu yang mengalir dalam setiap langkahku. Ada doa-doamu yang tak pernah kudengar, tetapi diam-diam menguatkanku menghadapi dunia yang lebar.

Ayah...

Jika suatu hari tubuhmu tak lagi sekuat dahulu, biarkan aku menjadi tempatmu berteduh. Jika langkahmu mulai perlahan dan melemah, genggam tanganku, biar aku yang menjagamu dengan penuh cinta.

Karena dahulu engkau yang mengajariku berjalan, kini izinkan aku membalas kasih dan pengorbanan. Bukan dengan harta, bukan pula dengan kemegahan, melainkan dengan cinta, bakti, dan ketulusan.

Ayah, engkau mungkin tak pernah meminta dipuji, tak pernah berharap namamu diabadikan dalam puisi. Namun bagiku, engkau adalah pahlawan sejati, lelaki sederhana yang memberikan seluruh hidupnya demi aku berdiri.

Dan jika Tuhan bertanya kepadaku suatu hari nanti, siapa sosok yang ingin kupeluk sekali lagi, aku akan menjawab dengan air mata yang tak mampu kusembunyikan:

“Ayah... aku ingin memeluk lelaki yang paling sering menyembunyikan lelahnya, lelaki yang mungkin tak pandai mengucapkan cinta, tetapi telah membuktikannya sepanjang hidupnya.”

Untuk Ayah, lelaki yang mungkin tak selalu mengatakan sayang, tetapi menghabiskan hidupnya untuk menunjukkan arti cinta. ❤️AYAH, LELAKI YANG MENYEMBUNYIKAN LELAH

Puisi untuk seorang ayah yang mencintai tanpa banyak kata

Ayah...

Engkau adalah lelaki yang jarang bercerita tentang luka, namun setiap hari berjuang demi bahagia keluarga. Tanganmu kasar oleh kerasnya kehidupan, tetapi hatimu lembut dalam setiap pengorbanan.

Aku sering melihatmu pulang dengan wajah kelelahan, menyimpan letih di balik senyuman. Kau tak pernah meminta dunia memahami deritamu, kau hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja selalu.

Ayah, berapa banyak mimpi yang kau kubur diam-diam? Berapa banyak keinginan yang kau relakan tenggelam? Hanya agar aku bisa berdiri dengan bangga, hanya agar masa depanku lebih indah dari masa mudamu.

Kau mengajariku tentang hidup tanpa banyak bicara, tentang tanggung jawab, tentang harga diri, tentang air mata. Kau tak selalu memelukku ketika aku terluka, tetapi kau berdiri paling depan saat dunia membuatku kecewa.

Maafkan aku, Ayah, jika selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menanyakan kabarmu, hingga tak menyadari rambutmu mulai memutih, dan langkahmu perlahan kehilangan kekuatannya.

Dahulu, kupikir engkau begitu kuat, seolah tak ada badai yang mampu membuatmu tersesat. Kini aku mengerti, di balik tubuhmu yang tegar, ada hati yang juga bisa rapuh dan gentar.

Ayah, andai aku mampu membeli waktu, akan kubeli setiap detik untuk bersamamu. Ingin kuulangi masa ketika kau menggenggam tanganku, ketika bahumu menjadi tempat ternyaman untukku.

Namun waktu tak pernah mau menunggu, ia terus berjalan, membawa usia menjauh darimu. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta, agar Tuhan menjagamu dalam setiap langkah dan usia.

Ayah, jika kelak aku menjadi seseorang, jangan tanyakan seberapa tinggi aku terbang. Lihatlah apakah aku masih mengingat tanah tempatku berpijak, dan apakah aku masih menghormati tangan yang dahulu mengangkatku saat terjatuh.

Sebab keberhasilanku bukan hanya tentang diriku, ada peluhmu yang mengalir dalam setiap langkahku. Ada doa-doamu yang tak pernah kudengar, tetapi diam-diam menguatkanku menghadapi dunia yang lebar.

Ayah...

Jika suatu hari tubuhmu tak lagi sekuat dahulu, biarkan aku menjadi tempatmu berteduh. Jika langkahmu mulai perlahan dan melemah, genggam tanganku, biar aku yang menjagamu dengan penuh cinta.

Karena dahulu engkau yang mengajariku berjalan, kini izinkan aku membalas kasih dan pengorbanan. Bukan dengan harta, bukan pula dengan kemegahan, melainkan dengan cinta, bakti, dan ketulusan.

Ayah, engkau mungkin tak pernah meminta dipuji, tak pernah berharap namamu diabadikan dalam puisi. Namun bagiku, engkau adalah pahlawan sejati, lelaki sederhana yang memberikan seluruh hidupnya demi aku berdiri.

Dan jika Tuhan bertanya kepadaku suatu hari nanti, siapa sosok yang ingin kupeluk sekali lagi, aku akan menjawab dengan air mata yang tak mampu kusembunyikan:

“Ayah... aku ingin memeluk lelaki yang paling sering menyembunyikan lelahnya, lelaki yang mungkin tak pandai mengucapkan cinta, tetapi telah membuktikannya sepanjang hidupnya.”

Untuk Ayah, lelaki yang mungkin tak selalu mengatakan sayang, tetapi menghabiskan hidupnya untuk menunjukkan arti cinta. ❤️AYAH, LELAKI YANG MENYEMBUNYIKAN LELAH

Puisi untuk seorang ayah yang mencintai tanpa banyak kata

Ayah...

Engkau adalah lelaki yang jarang bercerita tentang luka, namun setiap hari berjuang demi bahagia keluarga. Tanganmu kasar oleh kerasnya kehidupan, tetapi hatimu lembut dalam setiap pengorbanan.

Aku sering melihatmu pulang dengan wajah kelelahan, menyimpan letih di balik senyuman. Kau tak pernah meminta dunia memahami deritamu, kau hanya ingin memastikan anakmu baik-baik saja selalu.

Ayah, berapa banyak mimpi yang kau kubur diam-diam? Berapa banyak keinginan yang kau relakan tenggelam? Hanya agar aku bisa berdiri dengan bangga, hanya agar masa depanku lebih indah dari masa mudamu.

Kau mengajariku tentang hidup tanpa banyak bicara, tentang tanggung jawab, tentang harga diri, tentang air mata. Kau tak selalu memelukku ketika aku terluka, tetapi kau berdiri paling depan saat dunia membuatku kecewa.

Maafkan aku, Ayah, jika selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menanyakan kabarmu, hingga tak menyadari rambutmu mulai memutih, dan langkahmu perlahan kehilangan kekuatannya.

Dahulu, kupikir engkau begitu kuat, seolah tak ada badai yang mampu membuatmu tersesat. Kini aku mengerti, di balik tubuhmu yang tegar, ada hati yang juga bisa rapuh dan gentar.

Ayah, andai aku mampu membeli waktu, akan kubeli setiap detik untuk bersamamu. Ingin kuulangi masa ketika kau menggenggam tanganku, ketika bahumu menjadi tempat ternyaman untukku.

Namun waktu tak pernah mau menunggu, ia terus berjalan, membawa usia menjauh darimu. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta, agar Tuhan menjagamu dalam setiap langkah dan usia.

Ayah, jika kelak aku menjadi seseorang, jangan tanyakan seberapa tinggi aku terbang. Lihatlah apakah aku masih mengingat tanah tempatku berpijak, dan apakah aku masih menghormati tangan yang dahulu mengangkatku saat terjatuh.

Sebab keberhasilanku bukan hanya tentang diriku, ada peluhmu yang mengalir dalam setiap langkahku. Ada doa-doamu yang tak pernah kudengar, tetapi diam-diam menguatkanku menghadapi dunia yang lebar.

Ayah...

Jika suatu hari tubuhmu tak lagi sekuat dahulu, biarkan aku menjadi tempatmu berteduh. Jika langkahmu mulai perlahan dan melemah, genggam tanganku, biar aku yang menjagamu dengan penuh cinta.

Karena dahulu engkau yang mengajariku berjalan, kini izinkan aku membalas kasih dan pengorbanan. Bukan dengan harta, bukan pula dengan kemegahan, melainkan dengan cinta, bakti, dan ketulusan.

Ayah, engkau mungkin tak pernah meminta dipuji, tak pernah berharap namamu diabadikan dalam puisi. Namun bagiku, engkau adalah pahlawan sejati, lelaki sederhana yang memberikan seluruh hidupnya demi aku berdiri.

Dan jika Tuhan bertanya kepadaku suatu hari nanti, siapa sosok yang ingin kupeluk sekali lagi, aku akan menjawab dengan air mata yang tak mampu kusembunyikan:

“Ayah... aku ingin memeluk lelaki yang paling sering menyembunyikan lelahnya, lelaki yang mungkin tak pandai mengucapkan cinta, tetapi telah membuktikannya sepanjang hidupnya.”

Untuk Ayah, lelaki yang mungkin tak selalu mengatakan sayang, tetapi menghabiskan hidupnya untuk menunjukkan arti cinta. ❤️

Perpustakaan Universitas Mbojo Bima
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?