AKU ADALAH ORANG BIMA
Puisi tentang tanah kelahiran, jati diri, dan kebanggaan
Aku adalah orang Bima, lahir dari tanah yang menyimpan cerita, dibesarkan oleh angin pegunungan, dan disapa ombak di tepi lautan.
Aku adalah orang Bima, yang mengenal kerasnya perjuangan, yang belajar teguh dari kehidupan, dan merawat harga diri dalam setiap langkah perjalanan.
Di bawah gagahnya Gunung Tambora, di antara birunya laut dan hamparan asa, ada jiwa yang tak pernah menyerah, ada hati yang tetap teguh meski dunia berubah arah.
Aku mengenal Dana Mbojo, tanah leluhur yang kucintai sepenuh jiwa, tempat adat dan budaya bersemi, tempat nilai-nilai luhur diwariskan dari generasi ke generasi.
Aku adalah orang Bima!
Darahku membawa kisah para leluhur, langkahku menyimpan semangat yang tak pernah luntur, lidahku mengenang bahasa tanah kelahiran, dan hatiku berdenyut bersama kebanggaan.
Bukan karena aku paling hebat, bukan pula karena ingin terlihat kuat, tetapi karena aku tahu dari mana aku berasal, dan ke mana martabatku harus kubawa.
Wahai dunia, dengarlah suaraku! Aku anak Mbojo, penjaga warisan bangsaku. Akan kujaga budaya, kubangun masa depan, kutabur ilmu, kurawat persaudaraan.
Sebab menjadi orang Bima bukan sekadar nama, bukan hanya tempat lahir atau garis keturunan semata. Ia adalah tentang keberanian, kehormatan, dan cinta, tentang menjaga akar sambil menggapai cita-cita.
Aku adalah orang Bima. Dari Dana Mbojo aku berdiri, dengan adat dan budaya aku mengenali diri, dan ke mana pun kakiku melangkah pergi, Bima akan selalu hidup di dalam hati.
Dana Mbojo, tanah yang kucintai. Mbojo ro ma ntau, kebanggaan yang tak akan mati.